> Lensa Berita

Lensa Berita BPHNTV

Berita tentang Kampanye Kesadaran Hukum Nasional

Kerja Keras dan Kerja Kompak mewarnai 2011.

BPHNTV-Jakarta. Memasuki awal tahun 2011, setiap manusia telah terbiasa membuat resolusi yang akan digunakan selama setahun kedepan. Hal ini dilakukan sebagai pijakan dalam melakukan suatu kegiatan. Umumnya resolusi berkaitan erat dengan pencapaian yang di inginkan termasuk tidak tabu melihat kejadian setahun yang lalu.

Pun tidak ketinggalan dengan Pusat Penyuluhan Hukum Badan Pembinaan Hukum Nasional yang baru-baru ini menyelenggarakan silaturahmi sesama pegawai di bilangan Bogor yang dihadiri oleh para pejabat eselon II, III, IV dan seluruh staf Pusluhkum yang ada.

Kepala Pusat Penyuluhan Hukum Dr. Susy Susilawati dalam satu kesempatan mengatakan, sepanjang tahun 2010 Pusat Penyuluhan Hukum berhasil mencapai banyak kemajuan. Dan itu mendapat respon positif baik itu oleh masyarakat maupun pemerintah”. “Hal ini tentu saja diraih dengan kerja keras dan kerja kompak rekan-rekan di Pusluh”, katanya.

Dirinya mengharapkan agar kedepan terus giat bekerja dan pantang menunda pekerjaan. “Semoga di tahun ini, tentunya tidak ada lagi rekan-rekan pegawai yang menunda pekerjaan,” ujar Susy. Dengan begitu, lanjutnya, tidak ada waktu yang terbuang dan tidak menumpuk pekerjaan diakhir waktu. Karena menumpuk pekerjaan akan membuat diri kita keteteran dan pekerjaan menjadi tidak maksimal, ungkap Susy.

Kapusluhkum juga menegaskan, di Pusat Penyuluhan Hukum tidak ada istilah “saya tidak bisa” atau “ini bukan tugas saya bu”, karena segala sesuatunya jika ingin bisa mencoba terlebih dahulu. “Pelajari dan dilakukan dengan maksimal,” jelas Doktor lulusan Universitas Padjajaran Bandung.

Susy menambahkan, sudah menjadi hakikatnya manusia terus berkembang dan saling membantu. “Jangan karena ketidakmampuan dan bukan tugasnya, kemudian dijadikan alasan untuk tidak melakukan sesuatu”, ujar wanita yang baru saja merayakan hari jadinya ke-51.***(RA)

 

Saatnya Perempuan diberikan Peran Yang Lebih Besar

BPHNTV-Jakarta. Peranan ibu terhadap perkembangan anak-anaknya sudah bukan rahasia lagi begitu besarnya. Seorang Ibu sebagai kaum perempuan mampu menjawab berbagai tantangan ditengah keterbatasannya sebagai kaum yang dianggap lemah. Tapi kini, kaum perempuan menjelma menjadi kuat dan sejajar dengan pria.

Banyak bukti menunjukkan, beberapa tahun terakhir, kita sering melihat prestasi kaum perempuan muncul di berbagai bidang. Beberapa bidang tersebut seperti bidang politik, hukum, HAM, sosial, ekonomi, teknologi, olah raga dan masih banyak lagi. Namun demikian, meskipun masih ada anggapan sebagai kaum yang lemah, perempuan mampu menjawab dengan kinerja dan eksistensinya dalam upaya turut membangun bangsa.

Terlepas dari peran serta perempuan di berbagai bidang, hendaknya kita memaknai Hari Ibu dengan menjadikannya semangat dan tauladan membangun generasi muda yang cerdas dan taat hukum. Perannya yang begitu besar saat melahirkan dan merawat anak-anaknya, menunjukkan kaum Ibu memang berkelas dan tangguh. Sudah sepantasnya seorang Ibu dijunjung dan dihormati. Karena tanpanya, kita tidak ada di muka bumi ini.

Khusus di Kementerian Hukum dan HAM, para pimpinan sangat menyadari pentingnya perempuan berbagi prestasi membangun hukum dan HAM seperti halnya kaum laki-laki. Hal ini terbukti, jika melihat di beberapa Unit Kementerian Hukum dan HAM ada beberapa pos jabatan ditempati oleh perempuan karena kompetensinya yang tinggi dan tidak diragukan lagi. Memang diakui belum maksimal, tetapi dari 33 Kanwil Kemkuham meski yang menjabat hanya 2 orang, kemudian 1 orang di Unit Eselon I, mengindikasikan perempuan di Kementerian Hukum dan HAM bisa bersaing dengan laki-laki.

Jika dikaitkan dengan tingkat kriminalitas, dengan jumlahnya yang lebih besar, angka kriminalitas kaum perempuan jauh lebih rendah dibandingkan dengan laki laki. Sedangkan bila dilihat dari isi Lembaga Pemasyarakatan, jumlah penghuni napi perempuan hanya 20 persen, jauh di bawah laki-laki, termasuk juga pelaku korupsi yang dilakukan perempuan hanya sedikit.

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi kaum ibu atau kaum perempuan untuk membuktikan bahwa perempuan bisa. Ini menandakan bahwa kaum ibu atau kaum perempuan dapat diandalkan karena relatif lebih teliti dan jujur. Maka saatnya perempuan diberi peran yang lebih besar.***(SS)

Kemenkumham Ajak Generasi Muda Hormati Ibu

BPHNTV-Jakarta. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia rabu pagi menggelar upacara peringatan Hari Ibu di halaman Kementerian, Jakarta (22/12). Peringatan yang digelar dengan sederhana ini dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia Harkristuti Harkrisnowo. Berdasarkan pengamatan BPHNTV di lapangan upacara, ada hal yang menarik untuk diungkapkan. Seperti seluruh petugas yang berada di lapangan semuanya dilakukan oleh kaum Ibu, termasuk juga peserta upacaranya didominasi kaum perempuan.

Dalam sambutannya, Dirjen HAM mengemukakan bahwa jasa seorang ibu tidak pernah bisa untuk dilupakan. “Sejak jaman perjuangan hingga sekarang,” kata Harkristuti. Dirinya berpendapat selayaknya kaum ibu diberikan peran penting dalam upaya membentuk karakter generasi muda. “Seorang ibu harus diberikan penghormatan yang tinggi,” tuturnya.

Menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini, peringatan hari ibu menjadi momen penting kebangkitan bangsa. Kompetensi dibidang apapun, ibu merupakan pengejawantahan kemajuan kaum perempuan yang kini sejajar dengan kaum laki-laki.

Sementara itu, ditempat terpisah Kepala Pusat Penyuluhan Hukum (Kapusluhkum) DR. Susy Susilawati, SH.MH. saat dimintai tanggapannya mengatakan, di beberapa negara juga terdapat peringatan Hari Ibu yang lebih dikenal dengan nama Mother’s Day.

Ia menambahkan, meskipun ada perbedaan seperti di Amerika dan Kanada, yang jatuh pada hari minggu di minggu kedua bulan Mei, namun maknanya tetap sama. “Kata ibu disini mencangkup Ibu, Nenek maupun Calon Ibu,” jelas Kapusluhkum.

Susy mengatakan, sebenarnya sejarah hari ibu di Indonesia sendiri dimulai dengan diadakannya kongres pertama organisasi-organisasi wanita di Jogjakarta tanggal 22 Desember 1928. Kongres perempuan ini kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia sekarang KOWANI. “Organisasi perempuan ini yang terilhami oleh pejuang wanita nasional seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan Dewi Sartika.***(Has)