> Lensa Berita

Lensa Berita BPHNTV

Berita tentang Kampanye Kesadaran Hukum Nasional

Lomba Lukis dan Karikatur Cerdas Hukum

BPHNTV-Jakarta. Memeriahkan hari jadi Kementerian Hukum dan HAM yang ke-65 atau lebih di kenal dengan Hari Dharma Karyadhika, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta mengadakan beberapa rangkaian kegiatan. Salah satunya adalah lomba lukis anak dan lomba karikatur hukum untuk kalangan dewasa.

Disela-sela rangkaian kegiatan tersebut, BPHNTV berhasil mewawancarai Bambang Krisbanu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM RI Kantor Wilayah DKI Jakarta. Menurut Bambang tujuan dari kegiatan, selain memeriahkan hari jadi Kementerian Hukum dan HAM, juga untuk menyalurkan bakat dan memotivasi peserta lomba untuk menghasikan karya yang lebih baik.

Dirinya berpendapat, tingkat kecerdasan hukum masyarakat kita cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dari hasil karya lukis yang dibuat peserta. “Peserta lomba mampu mengkritisi isu dan permasalahan hukum saat ini. Kritik yang membangun tersebut di tuangkan dalam bentuk lukisan sesuai dengan karakter yang dibuat”, ujar Kadiv Pemasyarakatan. Selain itu, bisa dijadikan sebagai tolak ukur tingkat cerdas hukum di masyarakat, sambungnya.

Untuk karya lukis maupun karikatur yang terpilih menang, hasilnya akan menjadi milik Kementerian Hukum dan HAM. Informasi yang diterima redaksi, hasil lukisan akan dipajang di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Hukum dan HAM DKI Jakarta.***(RA)

LEGAL VOICE MALAM INI DITUNDA

MOHON MAAF, KARENA SATU DAN LAIN HAL, TAYANGAN LEGAL VOICE MALAM INI DITUNDA PENAYANGANNYA. TERIMA KASIH.

MALAM INI TALKSHOW LEGAL VOICE DI METRO TV JAM 20.30 WIB

Lomba Lukis Anak sebagai bagian dari Kampanye Membangun Anak Cerdas HukumLegal Voice bakal tayang setiap hari senin malam pukul 20.30 WIB di Metro TV. Malam ini Legal Voice akan mengangkat tema "Membangun Anak Cerdas Hukum". Berbeda dengan tayangan Legal Voice dua tahun terakhir yang berformat talk show, khusus tayangan malam ini mengambil format liputan. Tema sentral dari liputan tersebut adalah bagaimana mewujudkan anak cerdas hukum, mengapa anak menjadi target utama kampanye, serta program-program apa yang telah dan akan dilakukan oleh BPHN. Liputan malam ini akan menyajikan,  salah satunya, bagaimana anak yang menjadi narapidana dididik di Lapas Anak Tangerang. Narasumber yang diwawancarai dalam liputan ini adalah, di antaranya, Menteri Hukum dan HAM RI.

Sebagaimana diketahui, pemberitaan di media massa akhir-akhir ini marak dengan masalah korupsi, main hakim sendiri, hingga tawuran warga, pelajar atau mahasiswa. Lebih dari sepuluh tahun bergulirnya reformasi, namun anarki sepertinya terasa jamak di masyarakat. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat kolektif dengan system kekeluargaan yang kuat? Apakah cita-cita para pendiri bangsa ini akan tinggal sebagai cita-cita semata dan tak pernah terwujud?

Dari perspektif ini, tidak terlalu keliru bila kerusuhan yang berujung pada gejala disintegrasi bangsa akhirnya bersumber dari lemahnya pendidikan dalam membentuk karakter bangsa. Karakter sebuah bangsa tidak dibangun dalam waktu satu atau dua hari atau bulanan saja, melainkan dalam waktu yang panjang dan terus-menerus. Usia dini adalah proses dimulainya pembentukan karakter diri seorang anak. Itu sebabnya, untuk mengarahkan perkembangan yang maksimal dan positif maka karakter anak perlu dibangun dan dibimbing. Sejak usia dini, karakter bangsa dibangun dari tekad anak-anak sendiri, lingkungan sekolah dan keluarga, serta lingkungan masyarakat.

Pembangunan karakter bangsa sejak dini juga merupakan pembangunan budaya hukum untuk menciptakan anak cerdas hukum. Pembangunan budaya hukum sejak usia dini ini menjadi concern dari Kementerian Hukum dan HAM RI melalui Badan Pembinaan Hukum Nasional c.q Pusat Penyuluhan Hukum.

Kejujuran dan keteladanan keluarga dan pimpinan bisa menjadi panutan bagi anak-anak dalam membangun karakter anak-anak di masa datang. Kemudian, bertanggung jawab didalam sikap sehari-hari membuat kita selalu berkerja keras untuk mendapatkan yang kita inginkan dan mengetahui mana yang merupakan hak kita mana yang bukan merupakan hak kita melaikan hak orang lain. Karena itulah, membangun budaya hukum sejak usia dini harus dimulai dari keluarga.

Berbudaya hukum yang baik mulai dari keluarga adalah asset yang sangat berharga. Kalau sentuhan-sentuhan itu bisa dimulai dari keluarga, maka kita bisa berharap ke depan Negara ini akan berbudaya hukum. Kalau anak di keluarga sudah mulai berbudaya hukum, maka ketika di masyarakat dia tidak akan mengalami kesulitan-kesulitan untuk mematuhi norma hukum.

Upaya membangun budaya hukum dari keluarga diwujudkan dengan adanya sosialisasi di tingkat RT, sekolah SMP maupun SMU, penyuluhan hukum melalui mobil penyuluhan hukum keliling, stiker, baliho dan komik serial anak cerdas hukum. Jika dulu diseminasi dilakukan secara indoktrinasi, namun kita sekarang dengan pendekatan yang lebih demokratis, persuasif dan dengan materi-materi yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

Pada medio Agustus tahun ini, telah pula ditandatangani MOU antara Kementerian Hukum dan HAM RI dengan Kementerian Pendidikan Nasional tentang adanya kegiatan ekstra kurikuler sadar hukum bagi anak didik. Saat ini sedang digodog secara intensif model ekstra kurikuler "Cerdas Hukum" bagi anak SD,  SMP dan SMU.